Pages

Thursday, March 24, 2011

“Cooperative Learning”, Alternatif Pembelajaran Era Global

Oleh : Asep P. Kurnia


Era global, identik dengan era persaingan antar negara dalam kancah internasional. Karena setiap negara ingin eksis, dan tidak mau terjerembab dalam ketertinggalan, yang menyebabkan negara tersebut hanya menjadi objek dari kemajuan teknologi dan informasi negara-negara yang telah maju. Ternyata, guru juga perlu memahami kondisi ini, sehingga mampu menyadarkan anak sebagai generasi penerus bangsa, memahami pentingnya upaya mengantisipasi ketertinggalan dalam era global ini. Aplikasinya bagi guru, tentu melalui modifikasi pembelajaran.

Upaya pemahaman tentang kondisi di atas, menjadi sebuah keniscayaan bagi guru dalam mengaplikasikannya pada pembelajaran sehari-hari di sekolah. Dapat dibayangkan, sebuah negara yang mengucilkan diri dari negara-negara lain yang sementara negara-negara kuatpun menghimpun diri (sebut saja G7) sehingga menjadi amat kuat, dan mampu melakukan dikte dalam berbagai segmen kehidupan secara global. Misalnya dalam hal ekonomi, mereka mampu berkolaborasi menciptakan suatu pola perekonomian yang berpengaruh bagi negara-negara lain. Dan, sampai saat ini boleh dikatakan menjadi sebuah kelompok negara paling unggul di dunia, dan sulit untuk mencari kelompok negara lain yang siap menyainginya.

Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning), adalah sebuah trend pembelajaran yang dapat digunakan dan dimodifikasi oleh guru, yang mampu menjadi indikator dalam menciptakan sosok kelompok siswa yang unggul di dalam kelasnya. Metode pembelajaran tradisional yang mengutamakan kemampuan individual dalam menguasai materi pembelajaran, untuk kondisi saat ini memang menyulitkan guru dalam mencapai target keberhasilan mengajar. Hal tersebut terjadi, mengingat adanya beberapa faktor; (1) kuantitas siswa dalam satu kelas saat ini terus meningkat yang menyebabkan pelayanan individual tidak optimal, (2) adanya penentuan kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada setiap mata pelajaran yang setiap tahun pelajaran harus ditingkatkan, (3)  kompleksitas materi pembelajaran pada setiap mata pelajaran semakin tinggi, (4) kesejahteraan guru tidak seimbang dengan perkembangan kondisi sosial ekonomi di masyarakat yang menyebabkan minimnya konsentrasi guru ke dalam tugasnya di kelas, (5) kebijakan birokrasi pendidikan yang acapkali tidak sejalan dengan kaidah-kaidah pendidikan yang sesungguhnya, contohnya dalam hal promosi jabatan senantiasa dimanipulasi demi vested interest sehingga mereduksi hasrat guru dalam berprestasi dan melakukan pengembangan profesi.

Metode pembelajaran Jigsaw adalah salah satu dari model pembelajaran yang banyak digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Jigsaw, adalah upaya guru menciptakan kelompok siswa yang unggul dalam prestasi belajar, yang melibatkan seluruh siswa melakukan persaingan sehat melalui akumulasi pemahaman materi pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif seperti ini, minat dan perhatian siswa dapat terus dikembangkan setiap kali pembelajaran dilakukan, karena anak merasa dituntut untuk menempati posisi yang lebih baik dari kelompok lainnya. Momentum ini akan membantu guru lebih epektif dalam menyampaikan tugas mengajar dalam suatu mata pelajaran tertentu. Terlebih-lebih bagi guru Sekolah Dasar yang menganut sistem guru kelas. Menurut Keller dalam Reigeluth (1987 :383-430) menyatakan bahwa minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, guru tidak akan terbebani kesulitan dalam merumuskan proses kegiatan belajar mengajar (PBM) karena intensitas pengulangan atau remedial teaching menjadi berkurang. Guru dapat dengan mudah mengambil keputusan mencapai ketuntasan belajar secara keseluruhan siswa (mastery learning), dan siswa pun tidak merasa berat dalam melangkah kepada kompetensi dasar berikutnya. Menurut Herndon (1987 : 11-14) menunjukkan bahwa adanya minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya.

Modifikasi pembelajaran dalam bentuk cooperative learning, adalah bagian tugas guru dalam menyampaikan pembelajaran, ditengah maraknya suasana individualisme, sektarianisme, dan bulying yang sulit menciptakan generasi yang mampu bersaing dalam kancah kesejagatan, baik itu dalam penguasaan teknologi, informasi, ekonomi, termasuk dalam aktualisasi kepribadian dan budaya bangsa/daerah yang saat ini marak dibicarakan. Ini semua merupakan tambahan pekerjaan rumah bagi guru. Make a better place for you and for me, kata Michael Jackson dalam sebuah lagu terpopulernya yang berjudul Heal The World. Kalimat ini sangat elok untuk diadopsi bapak dan ibu guru; “berikan bekal pengalaman terbaik bagi para siswa, yang insya alloh akan berimplikasi positif bagi kita juga.” Semoga.***


 
Copyright (c) 2010 Posting Bloging. Design by WPThemes Expert

Blogger Templates and RegistryBooster.